Leher Panjang, Rahasia Cantik Nan Unik Suku Karen

Di Indonesia kita kenal dengan suku Dayak Kenyah dari Kalimantan yang terkenal karena keunikannya. Suku ini punya ciri khas telinga yang panjang dengan banyak anting. Ternyata selain suku Dayak Kenyah ini, masih ada loh suku lain yang terkenal karena ciri khasnya yang unik tapi juga sedikit mengerikan. Salah satu suku unik tersebut adalah suku Karen dari Thailand Utara, lebih tepatnya di provinsi Chiang Rai. Wanita suku Karen ini memiliki ciri khas leher yang memanjang. Waw, kok bisa ya lehernya jadi sepanjang itu?

Saat kalian berkunjung ke bagian Thailand utara, salah satu tempat yang tak boleh dilewatkan adalah desa tempat tinggal Suku Karen. Ini adalah salah satu suku yang tinggal di pedalaman Thailand selain juga Lahu Shi Bala, Palong, Hmong, Kayaw, Akha, dan Mien. Karen menjadi salah satu suku yang “diincar” wisatawan karena tradisi uniknya. Para wanita Suku Karen diwajibkan memanjangkan leher menggunakan tumpukan kawat yang terbuat dari kuningan. Di Thailand ada beberapa desa wisata tempat turis melihat Suku Karen, salah satunya Baan Tong Luang di Chiang Mai.

“Di Thailand, semua Suku Karen hanya tinggal di desa wisata. Tidak ada yang hidup di pedalaman atau di pegunungan seperti aslinya,” tutur Paiboon Pramuankarn, seorang pemandu wisata. Namun, salah besar jika Kamu berpikir Suku Karen adalah asli Thailand. Karen pada awalnya tinggal di dataran tinggi Tibet. Suku tersebut kemudian “hijrah” ke Myanmar, tepatnya di Karen State yang berbatasan langsung dengan Thailand. Lalu bagaimana asal usul adanya Suku Karen tersebut?

2

Asal – usul Suku Karen

Suku Karen dianggap paling unik karena mempunyai ciri khas gelang besi di lehernya. Suku Karen dan suku lainnya adalah suku yang mengungsi dari pedalaman Myanmar. Aslinya mereka tinggal di hutan-hutan pedalaman Myanmar. Namun saat perang saudara berkecamuk di Myanmar, mereka akhirnya terpaksa mengungsi ke Thailand utara. Suku ini hidup tanpa identitas di Thailand, sehingga mereka tidak bisa bersekolah atau bekerja di kantor.

Biaya hidup mereka sehari-hari sebagian didapatkan dari kunjungan wisatawan. Sebagian lainnya dari hasil berburu di hutan-hutan. Kalau kita mau masuk ke desa mereka, kita harus membayar tiket masuk 300 Baht atau sekitar 109.000 rupiah. Bagi wisatawan yang ingin berfoto, dianjurkan membeli souvenir-souvenir atau kain tenun yang mereka jual.

Suku Karen ini terbagi menjadi beberapa sub-etnis antara lain Skaw Karen, Pwo Karen, dan Bwe Karen. Beberapa sub-etnis ini kemudian pindah ke Thailand karena bentrok dengan pemerintah. Kini, sekitar 150.000 orang Karen tinggal di Thailand sementara tujuh juta lainnya masih tinggal di Myanmar. “Jumlah Suku Karen yang tinggal di Thailand sedikit. Oleh karena itu sangat diperhatikan pemerintah,” tambah Paiboon yang akrab dipanggil Jack.

 

j

Pada dasarnya Suku Karen menganut kepercayaan animisme. Namun sejak Myanmar dijajah Inggris pada abad ke-18, misionaris Kristen pun melebarkan sayapnya. Kini sekitar 15 persen Suku Karen di Myanmar dan Thailand menganut agama Kristen. Di desa wisata Baan Tong Luang misalnya, terdapat sebuah gereja untuk tempat ibadah. Baan Tong Luang hanya salah satu desa wisata untuk melihat Suku Karen dari dekat. Desa ini menggabungkan tujuh suku yang tinggal di utara Thailand, yang sering disebut hill tribes. “Ada tujuh suku yang tinggal di desa ini. Ada sekitar 20 kelompok jika ditotal,” tutur Jack.

Para wanita Suku Karen mengenakan kalung bertumpuk-tumpuk. Mereka melakukan tradisi ini sejak masih gadis. Semakin panjang leher, semakin cantik mereka di mata pria Hampir semua suku asli Thailand punya kerajinan tangan berupa tenun. Semua wanita hill tribes bisa menenun. Mereka menenun kain untuk digunakan sebagai pakaian, topi, hingga selimut dan kaus kaki.

Tujuh suku itu tersebar di desa yang cukup luas, lengkap dengan pesawahan dan lumbung padi. Bertani adalah mata pencaharian utama para pria hill tribes. Kincir air bisa ditemukan di beberapa titik. Menyusuri tiap suku di Baan Tong Luang butuh waktu yang tidak sedikit. Apalagi setiap pemilik rumah memersilakan pengunjung untuk memotret (tanpa membayar) bahkan masuk ke dalam rumahnya.

1

Bahaya Leher Panjang

Tapi bukan tanpa resiko mereka memakai gelang seberat itu. Beban tersebut dipercaya bisa merusak struktur tulang wanita suku Karen. Semakin tua maka akan semakin beresiko, sehingga kebanyakan wanita suku Karen hanya hidup sampai umur 45-50 tahun saja. Sejarah lain menyebutkan kalau gelang tersebut berfungsi sebagai pelindung binatang buas. Dulu saat mereka masih tinggal di pegunungan, banyak binatang buas yang sering menyerang wanita Karen. Umumnya binatang buas tersebut menyerang leher atau tenggorokan mereka. Karena itulah gelang tersebut berfungsi sebagai pelindung dari gigitan binatang buas.

Gimana, tertarik melihat langsung keunikan suku Karen? Kalian bisa mengikuti tur travel yang ada di Chiang Mai atau di Chiang Rai. Hampir semua tur travel menawarkan kunjungan ke perkampungan suku Karen. Kalau mau pergi ala backpacker juga bisa, tapi transportasi umumnya agak susah. Alternatif lainnya kalian bisa mengunjungi perkampungan suku Karen yang dekat dengan kota Chiang Mai. Kekurangannya perkampungan tersebut sudah disulap jadi desa wisata, sehingga suasana suku Karennya sudah agak hilang.