Mengenal Lebih Jauh Tentang Geisha

Setiap negara pasti memiliki tempat hiburan nya tersendiri, baik tempat hiburan wahana yang mengasikan maupun tempat hiburan yang sedikit kotor dipandang oleh beberapa orang. Tempat hiburan yang kotor dipandang dimaksudkan tempat para wanita-wanita seksi sedang menghibur pria yang haus akan seks. Dan setiap negara juga pasti memiliki wanita-wanita penghibur yang siap melayani para pria hidung belang.

Tidak hanya luar negeri saja, di Indonesia juga terdapat wanita-wanita penghibur yang siap meladeni apa yang di inginkan pelanggannya tersebut. Pada umumnya, wanita-wanita penghibur selalu mengenakan pakaian seksi, yang memperlihatkan tubuh indahnya. Namun berebda dengan negara Jepang, negara terbit nya matahari tersebut terdapat seorang Geisha (wanita penghibur) yang mengenakan baju adat Jepang atau sering disebut Kimono.

Apa Itu Geisha?

2

Geisha adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. Di Kansai, istilah “geiko” dan geisha pemula “maiko” digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah “maiko” hanya digunakan di distrik Kyoto.

Geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa, di mana Jepang memasuki masa damai dan tidak begitu disibukkan lagi dengan masalah-masalah perang. Seorang calon geisha harus menjalani pelatihan seni yang berat selagi usia dini. Berlatih alat musik petik shamizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es.

Berlatih alat musik lainnya juga seperti tetabuhan kecil hingga taiko. Berlatih seni tari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha, karena geisha papan atas umumnya adalah penari, tari Topeng Noh yang sering dimainkan oleh geisha dihadirkan bagi masyarakat kelas atas berbeda segmennya dengan pertunjukkan Kabuki yang lebih disukai rakyat jelata.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha (Okiya) membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

Pada awalnya muncul nya, geisha itu bukan wanita penghibur, PSK, ataupun ladies Escort yang bisa dibawa tidur oleh kaum adam, tetapi justru awal mulanya mereka ada karena tuntutan karir dan zaman bahwa wanita bisa juga sebagai entertainer.

Setelah 100 tahun sejak geisha ada , ketidak pastian mengenai keberadaan geisha sendiri mulai bergeser sedikit demi sedikit. Di Jepang banyak sekali kaum adam saat itu (suami) yang tidak puas dengan rumah tangganya, nah karena kehebatan geisha yg bisa menghibur, menari, melawak dan menyanyi maka tidak heran banyak kaum para suami/lelaki yang ingin mencari geisha sebagai pasangan hidupnya. Dan inilah pergeseran geisha yang tadinya mereka adalah entertainer sejati menjadi buruan kaum adam yang sifatnya hanya pelarian dari kenyataan hidupnya.

Pakaian atau tata busana geisha ditahun 1930 , seorang geisha tampil bak supermodel , cantik, anggun, mempunyai tubuh yang seksi dan juga masih menghormati adat istiadat kuno Jepang. Dan uniknya wanita Geisha sangat menutupi bagian auratnya yang bisa mengundang nafsu kaum adam, ini terlihat dari pakaian para geisha (kimono). Dan yang terbuka hanya bagian leher belakang yang berbentuk V. semakin panjang bentuk V-nya kebawah berarti sang geisha semakin provokatif.

Memakai Kimono tidak semudah yang kita bayangkan ternyata baju kimono memiliki 12 lapisan. Dan itu harus sesuai dengan masing-masing setelannya. Memakai kimono butuh waktu 1 jam lebih, dan ketikah sudah memakai kimono geisha harus menyesuaikan gerak jalannya.

Untuk menentukan geisha Muda dan geisha Senior, lihat dibagian kera yang terdapat pada geisha. Jika warna kerahnya merah berarti geisha Muda, dan jika kerah berwarna putih berarti geisha senior. Soal rambut, geisha kadang memakai wig atau juga rambutnya di bentuk dengan cara me-wax agar lebih mengembang. Yang perlu dihindari adalah terlalu sering mencuci rambut ataupun menyisir rambutnya yang bisa mengakibatkan kerontokan rambut ataupun ramput tidak dapat mengembang.

Seorang geisha tidak diperbolehkan untuk menunjukan siapa identitasnya, seperti nama, alamat, saudara, asal usul dan lain-lain. Kimono yang dipakai geisha adalah buatan tangan dan selalu terbuat dari kain sutra, walaupun setiap pergantian musim, corak kimono itu berubah ubah. geisha menghabiskan waktu 2 jam untuk mempercantik dirinya. Untuk mengatakan nama dan daerah asal mereka saja para geisha tidak diperbolehkan, apalagi menjalin hubungan asmara dengan seorang lelaki. Mereka baru boleh menjalin hubungan asmara dan menikah ketika sudah tidak lagi berprofesi sebagai geisha, atau pensiun.

Perbedaan antara Geiko dan Maiko

geisha29

Geiko mengikuti kursus atau sekolah, yang mengajarkan tentang seni dan kultur Jepang. Mulai dari upacara minum teh, cara merangkai bunga, sampai belajar memainkan beragam alat musik. Calon geiko yang masih menjalani kursus ini disebut maiko. Ada 2 perbedaan dasar Geiko dan Maiko. Maiko punya hiasan bunga di rambutnya, sedangkan geiko tidak.

Perbedaan kedua terletak pada obi atau ikat kimono. Obi milik maiko lebih panjang dan menjuntai ke bawah sementara obi geiko dilipat menjadi bentuk kotak di bagian punggung mereka. Maiko juga terkadang mengenakan sandal jepit dari kayu yang berhak tinggi, sementara geiko menggunakan sandal kayu berhak rendah.

Fakta Unik Tentang Geisha

1

1. Geisha Pertama adalah Laki-laki

Pada awalnya, para pria lah yang bekerja sebagai seorang geisha karena wanita tidak boleh menghadiri pesta. Para geisha laki-laki ini juga menghibur dengan keahlian seni mereka. Pada tahun 1700an, barulah muncul para wanita yang menyebut dirinya sebagai geisha, wanita penghibur yang tidak menjual seks dan hanya menghibur dengan cara menyanyi atau menari di pesta.

Pemerintah kemudian memunculkan peraturan ketat tentang jam berapa saja geisha wanita boleh bekerja dan pakaian seperti apa yang boleh dikenakan. Peraturan ini dibuat untuk melindungi bisnis para oiran dan rumah pelacuran karena kemunculan para geisha menjadi ancaman bagi bisnis mereka. Para geisha juga tidak boleh disewa secara tunggal, tapi harus beberapa orang geisha sekaligus. Namun peraturan ini bukannya menurunkan kesuksesan geisha, tapi malah menaikkan pamor mereka.

2. Gambaran Kehidupan Matriarki

Meskipun tampaknya pekerjaan mereka hanya fokus pada pria, tapi mereka tinggal di lingkuangan matriarki atau yang didominasi oleh para wanita. Seorang wanita menjalankan okiya, wanita mengajari para gadis pengetahuan dan skill untuk menjadi seorang geisha, dan wanita juga yang memperkenalkan geisha baru. Pemimpin sebuah okiya disebut okasan atau “ibu”, mentor geisha disebut sebagai onesan atau kakak perempuan. Wanita yang menjalankan rumah jamuan bisa menaikkan pamor seorang geisha dan bahkan menghancurkan karirnya.

3. Busana ala Geisha

Persiapan seorang geisha bisa membutuhkan waktu berjam-jam karena penampilan mereka juga menjadi bagian dari daya tariknya. Tapi tidak hanya itu saja, segala persiapan mulai dari make up, tata rambut hingga kimono yang mereka pakai akan membedakan seorang geisha dan yang masih maiko, serta dari geisha yang masih muda dan yang sudah dewasa atau berpengalaman. Hanya dengan melihat penampilan mereka, kamu sudah bisa membedakannya.

Kimono yang dipakai oleh para geisha berbeda dengan kimono biasa. Kimono untuk para geisha menunjukkan garis leher mereka karena bagi budaya Jepang, bagian tubuh ini adalah yang paling sensual dari seorang wanita. Para geisha dan maiko mengenakan makeup berwarna putih kemudian mewarnai bibir mereka dengan warna merah. Maiko hanya mewarnai bibir bawah mereka untuk menunjukkan bahwa mereka masih seorang maiko.

4. Mizuage

Maiko yang mencapai usia untuk menjadi seorang geisha akan menjalani upacara yang disebut sebagai mizuage. Transisi ini biasanya dilaksanakan saat seorang maiko mencapai usia sekitar 20an. Dalam upacara ini, seorang pria membayar untuk bisa berhubungan seks dengan maiko. Hal ini jugalah yang menjadi perdebatan apakah kegiatan ini juga termasuk sebagai prostitusi atau tidak.

Di jaman Edo, mizuage disponsori oleh seorang patron atau penyokong maikotersebut dan dia lah yang punya hak mengambil keperawanan seorang maiko. Ketika seorang patron sudah tidak berhubungan dengan seorang maiko, mara patron tersebut sudah tidak punya hubungan lagi dengan maiko tersebut. Praktik ini kemudian menjadi ilegal sejak tahun 1959.

5. Cara Tidur Geisha

Seorang Geisha memiliki gaya rambut yang sangat rapi, kencang dan rapat. Proses untuk mengatur model rambut seorang geisha butuh waktu berminggu-minggu, mulai dari meluruskan rambut, mencatok dengan setrika panas, dan kemudian menyisirnya dengan lilin panas agar terjaga kerapiannya dan tidak mudah rusak. Dengan serangkaian proses panjang ini, geisha dituntut untuk dapat menjaga tatanan rambutnya agar tidak mudah rusak. Begitupun pada saat mereka tidur, seorang geisha harus tetap mempertahankan tatanan rambutnya. Oleh karena itu dibuatlah sebuah bantal dengan bentuk khusus. Bantal khusus bernama takamakura ini terbuat dari sebuah balok kayu yang diletakkan di bawah lehernya.

6. Geisha Modern

Di era modern, geisha masih tinggal di okiya terutama saat masih berlatih menjadi seorang geisha. Mereka yang sudah berpengalaman biasanya cukup sukses dan mampu tinggal atau hidup secara mandiri. Sebelum abad ke-10, pelatihan geisha dimulai saat seorang gadis masih berusia 4 tahun, namun sekarang para gadis akan sekolah dulu sampai usia remaja sebelum mereka secara pribadi memutuskan ingin berlatih menjadi seorang geisha. Jadi, para wanita biasanya akan menyelesaikan pendidikan mereka dulu baik setelah setingkat SMP, SMA, atau bahkan setelah lulus kuliah.

Di era modern Jepang, geisha dan maiko adalah pemandangan yang langka di luar area hanamachi, atau tempat mereka bekerja dan tinggal. Pada tahun 1920an, ada lebih dari 80 ribu geisha di Jepang, namun sekarang ini jauh lebih sedikit wanita yang memilih menjadi seorang geisha. Hal ini tidak lain karena kondisi ekonomi yang merosot, berkurangnya ketertarikan dalam seni tradisional, eksklusifnya dunia geisha, dan biaya menyewa geisha yang cukup mahal.

Nah, itulah sejarah dan fakta seputar seorang geisha. Sebuah tradisi yang meliputi keanggunan, sensualitas, sekaligus misteri.