Apa Yang Terjadi Saat Mati Suri?

Setiap orang mungkin sudah pernah mendengar tentang mati suri. Ketika seseorang sudah menemui ajalnya, seluruh anggota tubuh dan organ-organ dalam tubuhnya tidak akan bisa berfungsi kembali. Namun, ada beberapa kejadian di mana seseorang yang sudah dinyatakan meninggal kemudian hidup kembali. Kejadian seperti inilah yang disebut mati suri.

Apa itu mati suri?

Mati suri juga disebut sebagai pengalaman mendekati kematian. Hal itu dikarenakan orang yang sudah meninggal masih memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk dapat hidup kembali. Sebagian ahli memprediksi bahwa peristiwa mati suri sebagai sebuah fenomena halusinasi yang disebabkan oleh berbagai faktor fisiologis dan psikologis. Sementara para peneliti lainnya menganggap hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesadaran atau pikiran yang bukan berasal dari aktivitas otak. Namun hingga saat ini, fenomena mati suri belum dapat sepenuhnya dijelaskan.

Secara klinis, orang yang mengalami mati suri sama halnya dengan orang yang sudah meninggal. Seluruh organ tubuhnya memang sudah tidak berfungsi lagi, seperti jantung yang sudah tak berdetak lagi. Tapi ada kalanya, ketika seseorang yang sudah dinyatakan meninggal dapat hidup kembali dengan berbagai alasan. Lalu apa yang membuat seseorang yang sudah meninggal bisa hidup kembali?

Penjelesan Mati Suri Secara Ilmiah

Para peneliti mempelajari gelombang otak pasien yang tengah sekarat, ditemukan adanya sebuah lonjakan aktifitas listrik sesaat sebelum para pasien tersebut meninggal. Dokter dari pusat kesehatan universitas George Washington percaya bahwa lonjakan listrik ini adalah penyebab fenomena mati suri, dimana para pasien melihat diri mereka berjalan menuju cahaya atau melayang keluar dari raga mereka.

Banyak pasien yang mengalami sensasi ini percaya mereka mempunyai penglihatan religi dan menganggapnya sebagai kehidupan pasca kematian. Beberapa pasien bahkan melaporkan melihat kembali tokoh tokoh religi seperti Yesus, Muhammad atau Krishna. Yang lain mengatakan mereka diliputi rasa damai saat mereka berjalan menuju terowongan penuh cahaya.

Namun para dokter ICU di George Washington mempunyai penjelasan lain yang telah dipublikasikan dalam jurnal kedokteran paliatif. Sebuah tim yang dipimpin Dr. Lakhmir Chawla menggunakan electroencephalograph (EEG), sebuah alat yang merekam aktivitas otak pada tujuh pasien dengan kondisi penyakit fase terminal yang diberi sedasi penghilang nyeri.

Sebuah studi baru mengenai kronologi mati suri ini mendapati bahwa tidak semua orang mengalami urutan langkah-langkah sama, yang bisa membantu menyingkirkan hubungan kompleks antara neurologi dan budaya di ambang hidupnya. Studi ini didasarkan pada 154 tanggapan survei responden dan narasi yang dikumpulkan melalui International Association for Near-Death Studies and the Coma Science Group. Responden dipilih menggunakan skala Greyson NDE, sebuah metrik yang dikembangkan oleh Bruce Greyson, seorang psikolog asal Amerika Serikat

Skala ini dirancang untuk memberikan struktur dan konsistensi dalam mengevaluasi pengalaman yang diingat oleh pasien saat mengalami perhentian jantung. Istilah Near Death Experience (NDE) atau mati suri muncul pada tahun 1975 saat psikolog bernama Raymond Moody menggunakannya untuk menggambarkan apa yang disebut dengan ‘menengok dunia lain’. Namun kini, cerita mati suri hampir bersifat klise. Cahaya terang, terowongan, dan emosi positif sudah menjadi hal yang biasa didengar mengenai pengalaman mati suri. Tahapan ini pun dianggap sebagai gambaran singkat dari kehidupan setelah kematian.

Analisa Psikologi

Sementara itu jika dilihat dari sisi psikologis, menuturkan mati suri ini berhubungan dengan otak dan biasanya identik dengan titik balik seseorang.

Saat mati suri, memori psikologis seseorang direset total jadi nol lagi sehingga mengalami rekonstruksi ulang dari kepribadian seseorang. Biasanya orang-orang yang mengalami mati suri mengalami tahap rekonstruksi ulang dari kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

Efnie menuturkan tak sedikit orang saat mati suri melewati tahap yang mana ia menghadapi situasi di alam lain, menerima punishment dari apa yang dia lakukan selama ini. Proses ini menjadi pembelajaran bagi diri seseorang yang memicu traumatis dan membuatnya tidak mau balik lagi ke masa lalu.

Ketika mati suri seseorang masuk ke fase pembelajaran tahap baru karenanya ia mengalami perubahan dalam perilaku dan personality ke arah yang lebih baik dan juga mengalami perubahan spiritual,” ujar psikologi Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung.

Bagaimana Seseorang Bisa Mengalami Mati Suri?

Beberapa hal di bawah ini bisa menjelaskan kenapa mati suri bisa terjadi pada seseorang.

– Terkait Dengan Fase Tidur

Salah satu kemungkinan penyebab terjadinya mati suri adalah fase tidur Rapid Eye Movement (REM) atau fase nyenyak, yaitu ketika seseorang mengalami mimpi. Fase ini melibatkan adanya kelumpuhan otot utama, sistem pernapasan yang berjalan lebih cepat dan cepatnya gerakan mata. Saat fase ini mengalami gangguan, maka seseorang mungkin mengalami kelumpuhan sementara saat bangun dari tidur.

Hal lain yang mungkin terjadi adalah adanya halusinasi penglihatan atau pendengaran selama masa peralihan dari tidur menuju kondisi terjaga atau sebaliknya. Pada kasus mati suri, otak kemungkinan mencampurkan kondisi tidur dan kondisi terjaga secara sekaligus. Normalnya, fase ini akan dibedakan secara mendetail sehingga jelas mana saat seseorang terjaga atau tidur. Beberapa ciri utama yang dirasakan mereka yang mengalami mati suri juga mirip dengan adanya gangguan fase REM ini. Misalnya saja perasaan dikelilingi cahaya, merasa terpisah dari diri sendiri, dan tidak mampu bergerak meski merasa sadar.

– Dihubungkan Dengan Gas Karbondioksida

Penelitian yang mengaitkan hal ini menyatakan bahwa adanya gas CO2 kemungkinan memberikan pengaruh pada keseimbangan kimia tubuh seseorang. Ketika keseimbangan kimia di otak seseorang mengalami gangguan, maka hal tersebut mungkin memengaruhi otak sehingga yang mengalaminya seperti melihat cahaya, terowongan, atau kematian seseorang. Pengalaman mati suri yang terkait dengan adanya gas CO2 sendiri didapatkan dari para pasien yang selamat dari serangan jantung. Orang yang mengalami serangan jantung memiliki konsentrasi CO2 berlebih dalam napas yang dihembuskan juga terkait level CO2 dan kalium dalam darah.

Pasien yang selamat dari serangan jantung dan mengalami mati suri memiliki beberapa kesamaan pengalaman. Mereka biasanya merasakan berada di dalam balutan cahaya, melihat dan mendengar peristiwa nyata dari sudut yang lain, serta bertemu dengan orang-orang yang dicintai yang sudah meninggal. Kejadian mati suri yang dialami oleh orang-orang yang selamat dari serangan jantung diyakini terkait dengan terhentinya fungsi otak setelah 20-30 detik terhentinya jantung. Saat sadar, mereka ternyata mampu menjelaskan hal-hal terkait kejadian yang terjadi di sekitarnya dalam tiga menit setelah jantung berhenti.

Kedua penjelasan di atas masih belum menjawab sepenuhnya bagaimana fenomena mati suri bisa terjadi. Meski pada kesimpulan-kesimpulan di atas berusaha netral dari sisi spiritual seseorang, namun hal tersebut ternyata banyak mengubah cara pandang mereka setelah mengalami peristiwa mati suri.

Pengalaman Mati Suri

Banyak masyarakat yang menghubungkan pengalaman mati suri ini sebagai suatu kejadian mistik, padahal banyak penelitian mutakhir membuktikan bahwa NDE merupakan suatu manifestasi keadaan di otak dan bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Pengalaman mati suri dipengaruhi oleh kultur budaya di masing-masing daerah. Oleh karena itu, mati suri yang dialami oleh orang Indonesia mungkin berbeda dengan yang dialami oleh orang Eropa.

Mati suri ditemukan di seluruh penduduk dunia. Sekitar 3% penduduk Amerika mengaku pernah mati suri, pengalaman ini juga dialami oleh sekitar 4-5% penduduk Eropa. Mati suri lebih sering dialami oleh wanita dibanding pria, dan lebih sering dialami oleh seseorang yang berumur di bawah 60 tahun. Sekitar 50% orang yang mengalami mati suri merasa bahwa mereka benar-benar sudah sempat meninggal, 56% merasakan bahwa itu merupakan suatu pengalaman positif, 24% merasa bahwa jiwa mereka meninggalkan raga atau out of body experience (OBE), 31% melaporkan pengalaman melewati terowongan, dan 32% melaporkan adanya interaksi dengan orang yang telah meninggal.

Yang Dirasakan Selama Mati Suri

  • Merasa meninggal betulan

Perasaan telah mati sering dilaporkan oleh orang yang mengalami mati suri. Perasaan ini juga dialami oleh mereka yang menderita sindrom cotard, hal ini diasosikan dengan adanya gangguan otak di bagian korteks parietal dan prefrontal, dan umumnya menghilang setelah beberapa hari. Hal ini dilaporkan juga pada orang yang mengalami cedera kepala, tifoid yang parah, dan multiple sklerosis. Belum diketahui kenapa seseorang bisa mengalami perasaan telah mati, penjelasan logisnya adalah mungkin ini hanya sebuah usaha pasien untuk memahami pengalaman aneh yang dialami.

  • Perasaan jiwa keluar dari raga

Out of body experience (OBE) sering dideskripsikan sebagai perasaan “melayang” di luar tubuh, dan terkadang disertai dengan autoskopi, yaitu melihat tubuh sendiri saat “melayang”. Walaupun sering dianggap sebagai pengalaman mistis, OBE juga dapat terjadi di kondisi lain, seperti misalnya saat seseorang mengalami sleep paralysis atau lebih dikenal dengan nama “ketindihan”. Saat ketindihan, tubuh berada di fase REM atau tidur nyenyak, tetapi otak mereka terbangun sebagian.

Penilitian Olaf Blanke berhasil memicu OBE buatan dengan menstimulasi otak bagian temporoparietal. Penelitian itu juga menyimpulkan bahwa OBE terjadi saat otak gagal mengintegrasikan berbagai rangsangan sensorik dari lingkungan eksternal.

  • Interaksi dengan orang mati

Dalam berbagai agama dan cerita dari mulut-mulut, banyak yang menyatakan bahwa saat kita mati, kita akan dikelilingi oleh orang mati dan malaikat. Hal ini turut mempengaruhi pengalaman yang kita rasakan saat mati suri. Fenomena ini diduga dikarenakan adanya gangguan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter dalam otak yang bisa menyebabkan seseorang mengalami halusinasi. Gejala berinteraksi dengan sesuatu yang tidak nyata juga dialami oleh pasien dengan Alzheimer, Parkinson, dan degenerasi makula.

Pada penderita degenerasi makula di mata, penglihatan yang terganggu menyebabkan otak berusaha mengkompensasi dengan cara menghadirkan gambaran lain yang sebenarnya tidak ada. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengalaman interaksi dengan orang mati ini bisa disebabkan oleh karena gangguan fungsi dopamin dan gangguan input sensorik.

  • Melihat terowongan cahaya

Melihat terowongan cahaya merupakan salah satu fenomena yang sering dilaporkan setelah mati suri.Hal ini bisa disebabkan karena pasokan darah dan oksigen yang berkurang di retina mata. Saat retina kekurangan oksigen dan menjadi iskemik, penglihatan di daerah tepi mata akan mengalami gangguan terlebih dahulu. Gangguan ini kemudian meluas ke arah tengah, sehingga tampak sebagai terowongan.

Mati suri merupakan pengalaman unik dengan berbagai mekanisme yang kompleks di baliknya, mulai dari kekurangan oksigen, gangguan fase REM tidur, gangguan fungsi dopamin, dan pengaruh budaya dan kepercayaan. Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah NDE tidak sepenuhnya harus berupa kejadian mistik dan bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, sehingga Anda tidak perlu memikirkan berlebihan jika suatu saat mengalaminya.

Perubahan fisiologis

1. Jadi super sensitif terhadap perubahan cahaya, suara, kelembaban dan berbagai stimulus atau kondisi lingkungan lainnya.

2. Jadi sensitif terhadap rasa dan bau, alergi terhadap obat tertentu dan alkohol, sensitif terhadap listrik misalnya arloji yang digunakan jadi mati.

3. Mengalami penurunan suhu tubuh, tekanan darah dan metabolisme tubuh.

4. Perubahan energi : Kondisi ini bisa menimbulkan sensasi panas atau dingin. Perubahan energi terjadi saat subjek memiliki kemampuan menyembuhkan melalui tangannya atau disebut sebagai ‘tangan yang panas’ akibat adanya energi yang mengalir.

4. Perubahan otak dan saraf : Lebih dari 50 persen orang yang mengalami mati suri mengalami perubahan fungsi saraf. Secara fisiologis jalur saraf mengalami revitalisasi yang selanjutnya berpengaruh pada tingkat kesadaran seseorang. Dan otak secara fisik juga berubah.

5. Memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa, mengalami peningkatan kecerdasan, lebih kreatif dan inventif, mengalami sinestesia (multiple sensing), menjadi vegetarian dan tampak lebih muda.

Perubahan spiritual

1. Para peneliti mati suri sepakat bahwa pengalaman mati suri membuat seseorang mengalami pertumbuhan dan perkembangan spiritual.

2. Meyakini adanya Tuhan sebagai sumber kasih tanpa syarat pada manusia.

Mati suri merupakan pengalaman unik dengan berbagai mekanisme yang kompleks di baliknya, mulai dari kekurangan oksigen, gangguan fase REM tidur, gangguan fungsi dopamin, dan pengaruh budaya dan kepercayaan. Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah NDE tidak sepenuhnya harus berupa kejadian mistik dan bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan, sehingga Anda tidak perlu memikirkan berlebihan jika suatu saat mengalaminya.