Larut Dalam Air, Kantong Plastik Ini Bisa Diminum

Bayangkan jika setiap hari, tiap warga Indonesia yang jumlahnya 250 juta menggunakan satu sedotan plastik sepanjang 20 cm dan langsung membuangnya. Sedotan yang semula cuma printilan jadi masalah karena sampah yang terakumulasi bila direntangkan mencapai 5.000 kilometer, setara jarak Jakarta ke Sydney.

Selain menjadi polemik dan permasalahan serius bagi alam liar, sampah plastik ternyata mampu mendorong inovasi dan peluang baru dalam menciptakan benda yang lebih ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan Kevin Kumala, pemuda asal Bali dengan eco-plastik buatannya kini banyak dipakai di seluruh dunia.

Inspirasinya itu terjadi setelah Kevin pulang ke Indonesia usai menjalani pendidikannya di Amerika Serikat pada 2009 lalu. Dia terkejut melihat perubahan yang terjadi pada pantai-pantai di Bali, yang sebelumnya terkenal dengan keindahannya malah penuh dengan sampah.

Keberadaan sampah itu mengganggu aktivitasnya sebagai penghobi surfing dan diving. Tak hanya di permukaan, plastik-plastik yang dibuang juga berada di bawah permukaan laut.

1

Termasuk salah satu kasus sedotan itu jadi gambaran masalah plastik. Publikasi di jurnal Science mengungkap, tahun 2010 saja dunia menghasilkan plastik sebanyak 12 juta ton. Indonesia sendiri tercatat sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China, 1,8 juta ton per tahun. Jika berlanjut, bumi jadi planet yang dipenuhi plastik. Kevin Kumala tak rela hal itu terjadi. Tahun 2013, ia dan rekannya merintis perusahaan start-up berbasis sains, Avani Eco. Kevin bermimpi menghasilkan plastik yang tetap praktis dan kuat sekaligus dapat terurai serta tidak berbahaya bagi makhluk hidup.

Kevin mencoba berinovasi, bersama rekan-rekannya dia mulai mencari bahan yang lebih ramah lingkungan. Teknologi ini sebenarnya sudah muncul lebih dulu di Eropa, hanya saja dia mencari bahan yang berbeda dan lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. “Saya bersama rekan-rekan tim R&D saya, delapan orang meriset selama tiga tahun dari 2010 untuk dapat meretur engineer berdasarkan sesuatu. Bioplastik memakai komoditas nabati yang satu sifatnya banyak terdapat di Indonesia dan dua harganya terjangkau. Karena bicara replace plastik, yang harga murah tentunya harus masuk juga sebagai bagian dari segi harga kompetitif,” ungkapnya.

Dia yakin bioplastik merupakan pemecahan dari masalah sampah di Jakarta. Di Eropa sendiri masyarakatnya sudah beralih dan sangat peduli terhadap masalah pencemaran lingkungan, bahkan bioplastik sudah berkembang sejak tahun 1990-an. Demi menemukan bahan yang pas dan murah, Kevin dan rekannya telah mencoba berbagai bahan mulai dari jagung, kedelai hingga singkong. Setelah dipilah-pilah, pilihan mereka jatuh terhadap singkong karena produksinya jauh lebih banyak dan murah.

h

Mengganti Polystyrene dengan Singkong

Gagasan Kevin adalah bioplastik berbahan pati, senyawa karbohidrat kompleks seperti bahan dasar penyusun nasi dan roti. Di dunia, bioplastik bukan barang baru. Sejak 1990, perusahaan di Eropa sudah memproduksi bioplastik dari jagung, serat bunga matahari. Namun, jika memproduksi bioplastik dari bahan yang sama, maka biayanya akan mahal.

Kevin pun mencari alternatif dan menganggap singkong adalah bahan bagus. “Di Indonesia produksi singkong 24-25 ton per tahun dan permintaannya masih di bawah itu,” katanya. Kevin tak menggunakan singkong mentah melainkan yang sudah berbentuk tepung. Jenis tepung yang dipakai adalah industrial grade yang biasa dipakai untuk pakan ternak. Bisa dibilang, tepung itu adalah buangan karena kadar patinya minim.

Sampai tahap gagasan, sebenarnya tak ada yang istimewa. Banyak mahasiswa Indonesia telah melakukan penelitian pembuatan plastik dari pati singkong, ganyong, gembili, bahkan kulit pisang. Yang istimewa dari Kevin, ia mengubah gagasannya menjadi nyata. Dari 2013 – 2016, Kevin serius melakukan penelitian laboratorium untuk menghasilkan bioplastik dengan ketahanan tinggi. Kandungan dalam pati yang memengaruhi kualitas bioplastik adalah kandungan selulosa dan amilosa. “Bisa dibilang selama 3 tahun itu saya lakukan sensitivity analysis berapa persen selulosa dan amilosanya,” katanya.

Kevin mengaku, ada tantangan besar untuk mengubah gagasannya menjadi kenyataan. Butuh riset yang tekun untuk menghasilkan bioplastik berkualitas sehingga biaya tinggi pun tak terelakkan. Kevin mengaku sempat kesulitan mendapatkan dana cukup untuk risetnya.

Avani Eco yang didirikannya mengalami titik balik pada Februari 2016. Kala itu, Kevin merasa produknya siap dipasarkan. ia pun menawarkan bioplastiknya pada pelaku industri perhotelan dan restoran dan berhasil. Kien pertamanya adalah Ritz Carlton Hotel.

Kampanye di media sosial lewat video meminum larutan bioplastik dan pendekatan ke komunitas menambah konsumen bioplastik. Hotel Marriot dan sejumlah kafe kini memakai produk Avani Eco. Garuda Indonesia memakai bioplastik Avani Eco untuk pembelanjaan dalam penerbangannya.

Kapasitas produksi Avani Eco meningkat pesat dalam setahun, dari 0,2 ton per hari pada awal 2016 menjadi 4 ton per hari saat ini. 80 persen hasil produksi diekspor. Ekspor bukan hanya ke negara barat, tetapi juga ke negara seperti Rwanda dan Kaledonia Baru. Produk bioplastik pun mulai beragam. “Kita bisa replace styforoam dengan ampas tebu yang terdekomposisi dalam 90 hari. Lalu ada sedotan plastik dari pati jagung. Papercup dari pati jagung dan sendok makan dari bahan kayu yang biodegradable. Banyak produk lain yang temanya disposable plastik.”

Paradoks plastik di Indonesia

Beda dengan banyak bangsa di Eropa, permasalahan plastik menjadi permasalahan sendiri di Indonesia apalagi jika itu merupakan karya anak bangsa. Bioplastik ciptaannya justru mendapatkan apresiasi dari luar negeri, bahkan komoditas buatannya lebih banyak dipesan dijual ke negara asing. “80 Persen customer dari luar negeri, ekspor. Kebanyakan ke Australia,” ungkapnya Kevin.

Tak hanya itu, kesadaran penggunaan plastik yang lebih ramah lingkungan juga masih rendah padahal sudah menjadi permasalahan serius di seluruh dunia. Indonesia, imbuhnya, justru kalah dari beberapa negara di Afrika yang malah melarang penggunaan plastik. Kondisi ini terjadi ketika Kevin mendarat di Rwanda, di mana setiap penumpang pesawat yang ingin masuk ke negeri itu wajib memberitahukan keberadaan plastik yang dibawanya. Tak hanya di Rwanda, hal serupa juga terjadi di beberapa negara lain seperti Ghana dan Mandagaskar.

“Tadinya Australia yang pelan-pelan akan menghilangkan penggunaan plastik namun, justru yang sudah malah Afrika, di Afrika banyak regulasi baru yang melarang penggunaan plastik,” terangnya. Di Indonesia sendiri sudah ada kebijakan untuk menggunakan plastik yang degradable atau hancur dengan sendirinya dalam dua tahun. Namun sayang, hal itu justru menyimpan bahaya yang tidak disadari, di mana sampah yang hancur hingga dua milimeter sekalipun bisa membunuh makhluk hidup, termasuk manusia.

“Mereka akan jadi pecahan sebesar 2 mm, 5 mm. Masuk ke tenggorokan, yang dimakan ikan, dan juga dimakan livestock kita, seperti sapi dan ayam. Kalau lihat plastik utuh pasti tidak akan tertarik, sedang plastik pecah lebih ribet lagi, karena hewan enggak akan tahu itu plastik, ujungnya seringkali ikan tiba-tiba terdampar di pesisir pantai karena makan kepingan plastik.”

3

Untuk mengungkap plastiknya benar-benar aman, Kevin pernah meminumnya sendiri yang larut di dalam air atau hancur 90 hari di dalam tanah dan menjadi kompos bagi tanaman. Sesuatu yang tidak akan terjadi pada plastik degradable.

“Ini juga aman dikonsumsi oleh hewan dan biota laut maka dari itu saya beranikan minum ini. Saya ingin katakan, ‘hei manusia aja bisa minum dan sangat aman ditubuh.”

Selisih Harga Sedikit

Pengembangan yang baik membuat bioplastik Avani Eco telah meraih sejumlah sertifikasi. Selain sertifikasi dari Institut Pertanian bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bioplastik Avani juga sudah mengantongi sertifikasi Oral Toxicity Test.

Produk ini tidak memberikan efek berbahaya bagi mamalia laut kalau terdampar di lautan. Kan sekarang banyak plastik mengendap di perairan, itu membunuh banyak hewan laut. Jadi bioplastik ini bukan hanya ini ramah lingkungan di atas tanah, tapi juga ramah bagi lautan.

Ke depan, Kevin berambisi mendapatkan sertifikasi ASTM 1600. Untuk mendapatkan sertifikasi itu, bioplastik harus dapat terdegradasi dalam waktu 180 hari. Saat ini, bioplastik Avani Eco terdegradasi terlalu cepat, 133 hari.

Selisih harga bioplastik dengan plastik biasa hanya sedikit. Untuk produk kantung plastik, selisih harga Rp 200 – 3000. Sementara untuk sedotan, selisih harganya cuma Rp 80. Tapi, uang dalam jumlah sedikit itu bisa memberi dampak besar.

Kevin mengatakan, jika saja lebih banyak orang di dunia mau menggunakan bioplastik, maka kematian hewan laut dan akumulasi racun tak terduga akibat penggunaan plastik polystyrene dapat berkurang drastis. Pastinya, langkah 3R tetap perlu dilakukan.