Mengapa Manusia Bermimpi Saat Tidur? Yuk, Cari Tahu Proses Dan Faktornya

Seperiga hidup manusia dihabiskan untuk tidur, dan ketika tidur ada kalanya kita bermimpi walau terkadang kita tidak dapat mengingatnya. Mimpi adalah suatu fenomena unik. Bagi pemerhati pergerakan pikiran tentu paham penyebabnya. Bermimpi sebenarnya hal yang wajar saja dan setiap manusia pasti pernah mengalami mimpi, entah itu menyenangkan ataupun menyedihkan dan terkadang membingungkan. Dengan bermimpi, kita bisa menghilangkan stres yang kita alami, mimpi membuat pikiran kita fresh. Lalu, bagaimana proses dalam bermimpi itu?

Proses Terjadinya Mimpi

3

Mimpi biasanya didefinisikan sebagai proses dari bayangan, perasaan, pergerakan, dan pikiran yang kita alami saat tertidur. Mimpi dapat dialami pada setiap fase dalam tidur kita, dan tidak harus selalu melibatkan rangsang tertentu (misalnya rangsangan Visual). Mimpi disebabkan oleh proses biologis internal dalam tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel otak besar pada bagian belakang otak secara periodic pecah dalam selang waktu sekitar 90 menit dan mengirim rangsangan (stimuli) yang bersifat random ke bagian korteks (batang) pada otak. Sebagai akibatnya, bagian memori, sensorik, control saraf, dan kesadaran pada otak terstimulasi secara acak yang berdampak adanya rangsangan pada puncak bagian korteks pada otak. Menurut penelitian ini, proses di atas mengakibatkan kita mengalami apa yang kita sebut sebagai mimpi.

Sebagian psikoterapis berpendapat bahwa saat rangsangan neurology dari otak memicu proses terjadinya mimpi, isi atau representasi dalam mimpi dapat berasal dari kebutuhan, keinginan, atau harapan dari pikiran bawah sadar dan kehidupan sehari-hari pada orang yang mengalami mimpi tersebut.

Penjelasan ini dikenal sebagai penjelasan “phenomenological-clinical”, atau “top-down”. di lain pihak, penjelasan neurology atau “bottom-up”, menyatakan bahwa mimpi sama sekali tidak memiliki arti khusus. Di antara keduanya terdapat pendekatan yang disebut “context analysis”.

Nathaniel Kleitman pada tahun 1953 membuat suatu penemuan penting mengenai fase REM (Rapid Eye Movement) dalam tidur. Fase ini ditandai dengan pergerakan bola mata yang cepat secara periodic yang terjadi baik pada manusia maupun hewan saat tertidur. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan sukarelawan sebagai subjek penelitian, saat tidur subjek penelitian dihubungkan dengan peralatan-peralatan EEG (Electro Encephalo Gram : pengukur gelombang otak), EGM (Electro Myo Gram : pengukur pergerakan otot), dan EOG (Elektr Oculo Gram : pengukur gerakan bola mata.

Sekitar 90 % subjek yang dibangunkan dari tidur saat mengalami fase REM melaporkan bahwa mereka mengalami mimpi (sekitar 60 % sunjek yang dibangunkan sebelum mengalami fase REM juga melaporkan mengalami aktifitas mirip mimpi dalam tidurnya). Sebelum adanya penelitian mengenai REM, masih belum diketahui persis seberapa sering manusia bermimpi dalam tidurnya). Sebelum adanya penelitian mengenai REM, masih belum diketahui persis seberapa sering manusia bermimpi.

5

Melalui riset laboratorium mengenai mimpi, subjek dibangunkan dari tidurnya setelah mengalami fase REM untuk diteliti aktifitas mentalnya selama tidur secara seksama. Manusia diketahui mengalami mimpi pada setiap malam.

Pada manusia dewasa, mimpi biasanya berlangsung pada sekitar 90 menit setelah tertidur dan terjadi lagi setiap 90 menit dengan durasi yang lebih lama, selama total 2 jam fase REM dalam tidur malam. Dengan rata-rata 5 mimpi tiap malam, manusia rata-rata mengalami 136.000 impian sepanjang hidupnya dengan waktu yang setara dengan 6 tahun fase REM dalam tidur.

Saat mengalami mimpi dalam fase REM, manusia mengalami peningkatan pada detak jantung, pernafasan, tekanan darah, konsumsi oksigen, dan penegeluaran getah lambung. Tidur fase REM biasanya disebut sebagai tidur paradoks karena memiliki karakteristik seperti tidur fase awal (light sleep ) dan tidur fase lanjut (deep sleep) sekaligus. Berdasarkan pengukuran pada EEG, fase REM adalah tidur fase awal (tingkat I), sedangkan berdasarkan pengukuran EMG merupakan tidur fase lanjut (tingkat IV), karena sebagain besar otot seolah-olah dilumpuhkan secara bersamaan untuk mencegah si mimpi secara fisik melakukan apa yang diimpikannya (misalnya berjalan sambil tidur).

20% hingga 25% waktu tidur kita digunakan untuk mimpi. Kita mimpi berkali-kali dalam semalam dan setiap mimpi itu waktunya antara 5 sampai dengan 40 menit. Walaupun demekian bayi bisa mimpi sampai delapan jam, maklum bayi tidurnya juga jauh lebih lama. Kita jarang bisa mengingat mimpi, sebab pengalaman mimpi kita pada umumnya di simpan dalam otak sementara yang hanya bisa di ingat antara 5 hingga 10 menit saja.

Pada saat kita mimpi otak tempat di mana biasanya kita berfikir (prefrontal cortex) itu tidak aktif sama seperti lumpuh, sebab mimpi terjadinya hanya di bagian depan otak kita (forebrain) oleh sebab itulah kita tidak bisa mengendalikan jalan arusnya mimpi kita. Kita tidak akan pernah bisa mengatur ingin mimpi apa bukan? Sebetulnya ada 2 faktor penyebab timbulnya mimpi. Faktor pertama adalah internal, berkaitan dengan diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. Faktor kedua adalah eksternal, berkaitan dengan luar faktor2 alam ataupun makhluk lain.

Faktor Penyebab Mimpi

2

  • Untuk faktor internal, penyebabnya adalah

1. Kesehatan jasmani dan keseimbangan elemen tubuh

Misalnya: orang sakit demam tinggi cenderung mimpi yang aneh2. karena pikiran ingin menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam tubuh, berhubung kesadaran orang sakit cenderung lemah maka pikiran menggunakan media visual untuk memperjelasnya. Pikiran ingin menggambarkan betapa kacaunya sistem di dalam tubuh, maka muncullah bentuk2 yang kacau dan tidak beraturan dsb. Dominan unsur angin menimbulkan aneka mimpi2 gelisah yg tidak nyambung. Dominan unsur padat menimbulkan aneka mimpi tertekan dan ketakutan, lorong-lorong dsb. Dominan unsur air menimbulkan aneka mimpi percintaan atau komunikasi dg orang2 serta tempat2. Dominan unsur api menimbulkan mimpi melayang, heroik, perkelahian, dan perdebatan dsb.

Bila kita mengalami sakit, itu berarti elemen tubuh tidak seimbang dan terjadi dishamonisasi, mimpi yang timbul bisa beraneka macam tergantung unsur dominan atau penggabungannya.

2. Perubahan aktifitas organ

Misalnya: bila sebelum tidur kita banyak minum dan lupa pipis, maka saat subuh/tengah malam kandung kemih penuh dan kita kebelet pipis. saat itu karena kita sedang tidur pulas dan kesadaran lemah, maka pikiran memperjelasnya dengan membuat gambar seolah kita berada dibawah pohon pisang sedang menurunkan resleting. coba bayangkan apa yang terjadi bila itu tidak segera disadari? JEMUR KASUR DAN CUCI SELIMUT. atau misalnya kaki kita bergerak secara mendadak, maka kita akan bermimpi seperti tersandung, jatuh dsb.
Bila kita habis kelelahan berjalan jauh, maka mimpinya seolah dikejar anjing/orang dan tidak bisa berlari. Bila kita habis kelelahan bekerja, maka mimpinya seolah dipukuli orang atau memikul benda berat dsb.[b]

3. Ingatan-ingatan

Bila ada kejadian yang cukup mengesankan dalam kejadian sehari2, itu akan terekam dan dapat muncul
sebagai mimpi. Sebagian adalah ingatan kehidupan lampau (bagi yang meyakini reinkarnasi, bila tidak anggap saja bunga tidur). sebagian adalah kejadian yang dialami belum lama.

4. Emosi-Emosi

Aktifitas emosi yang kuat dapat muncul ke dalam mimpi. penggambarannya bisa berlawanan ataupun sejalan dengan emosi kuat yang sedang mempengaruhi kita. Misalnya kita berharap memiliki ferrari, yang muncul di mimpi malah gerobak/delman dsb. Bila kita menyembunyikan suatu kebenaran dan takut diketahui, maka mimpinya malah kebenaran itu diungkap oleh kita sendiri dsb.

  • Faktor-Faktor eksternal penyebabnya adalah:

1. Aktifitas sekitar tempat tidur, lingkungan, dan alam

Siapakah yang memberitahukan saat kita ada di tepi tempat tidur dan akan terjatuh? mendadak kita bermimpi sedang dipinggir jurang dalam atau tepi sungai. dan bila kita melompat maka kita terjatuh dari ranjang. pikiran tanpa disadari sudah merekam aktifitas dan membuat ukuran2 sebelum kita tertidur. saat ada orang mengetuk pintu maka kita bermimpi ada yang memanggil kita. saat jendela terbuka dan ada suara berderik maka kita bermimpi mendengar mercon/bunyi berisik lainnya. saat kilat menyambar2 maka kita bermimpi melihat cahaya dari kejauhan. dsb

2. Tanda alam dan makhluk halus

Untuk yang makhluk halus misalnya kita bermimpi kedatangan orang tua atau keluarga yang sudah meninggal dan mereka minta kita melakukan sesuatu. tetapi ini juga harus dibedakan dengan halusinasi yang dipicu oleh ketakutan kita akan situasi di tempat tertentu atau seseorang dsb.

Tapi, tahukah anda bahwa beberapa ahli psikoanalisis masih percaya, jika mimpi adalah kekuatan terbesar manusia. Kok bisa kekuatan terbesar manusia? Nah, ini nih fakta-fakta unik tentang mimpi.

Fakta Ilmiah Tentang Mimpi

1

  • Bermimpi dapat membantu proses belajar : Current Biology menyebut mimpi adalah kerja otak, mengintegrasikan dan memahami informasi terbaru. Ahli dari Harvard Medical School menganjurkan ada baiknya kita belajar memecahkan mimpi yang dirasakan.
  • Perempuan juga bisa orgasme melalui mimpi : Tidak benar bahwa hanya lelaki saja yang bisa orgasme ketika mimpi. Barbara Bartlik, psikiater dan terapis seks di New York, menegaskan, perempuan juga bisa orgasme. Berbeda dengan lelaki, saat bermimpi erotis, alat kelamin perempuan tidak harus membesar.
  • Mimpi pasangan selingkuh : Lauri Quinn Loewenberg, penulis cum ahli mimpi, melakukan surve terhadap 5 ribu orang dan menemukan, bahwa mimpi perselingkuhan adalah yang paling sering dijumpai dan berulang. Meski harus diperhatikan, itu tidak menandakan yang sebenarnya.
  • Ada lusinan mimpi dalah salah malam : Loewenberg memperkirakan, sepanjang hidupnya seseorang bisa memiliki lebih dari 100 ribu mimpi. Dalam sehari, seseorang bisa mempunyai lebih dari satu mimpi. Dari beberapa mimpi yang terjadi selama semalam, paling-paling yang benar-benar kita ingat hanya satu.
  • Mimpi bisa diperlama setelah bangun : Loewenberg mengatakan, kita bisa meneruskan mimpi setelah bangun. Caranya, ketika terbangun dari mimpi, padahal kita ingin berlama, tinggal berbaring diam, jangan pindahkan otot, dan akan tetap berada dalam keadaan semi-mimpi dalam beberapa menit.
  • Mimpi dapat diartikan : Ada potensi makna dalam mimpi, tergantung apakah kita mau berusaha mencarinya atau tidak. Kita cenderung abai dengan mimpi-mimpi yang aneh, padahal ada kalanya itu adalah cerminan dari perasaan atau proses kerja otak pada diri kita.
  • Mimpi memberi tahu kita dengan cara berulang-ulang : Ada kepercayaan, mimpi berulang-ulang adalah pertanda sesuatu. Itu tidak sepenuhnya salah. Misal bermimpi soal gigi berkali-kali, bisa jadi akan ada yang terjadi dengan gigi atau sekitar gigi kita.
  • Mimpi bisa dikendalikan : Kita pernah melihat film Inception karya Christopher Nolan mengenai kendali akan mimpi. Sebuah survei mengatakan, dari 3 ribu orang, 64,9% mengatakan pernah bermimpi dalam mimpi, 34% mengatakan mereka bisa mengontrol mimpi.
  • Tidak harus tidur untuk mimpi : Boleh percaya, boleh tidak, kita bisa bermimpi walau tidak tidur. Ini bisa terjadi ketika bisa memanfaatkan imajinasi aktif kita. Tempat yang tenang dan kontemplatif juga bisa membuat kita bermimpi meskit tidak tidur.

Mimpi yang sering dianggap sebagai bunga tidur memang merupakan sesuatu yang unik yang menyertai tidur. Kegiatan tidur sendiri sangat penting untuk memerbaiki sel-sel tubuh, membuang zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh dan memulihkan otak. Reorganisai otak berlangsung dan kegiatan memerbaiki mental saat tidur mimpi atau tidur REM. Itulah sebabnya, jika Anda kurang tidur, pikiran terasa kacau. Maka, tidur dan mimpi dapat menyegarkan pikiran Anda. Selamat tidur yang nyenyak dan menikmati mimpi indah Anda.