Hujan Berlian di Neptunus dan Uranus, Ilmuwan Buat Tiruan di Laboratorium

Saat ini Indonesia sedang mejalani musim hujan, musim yang setiap tahunnya datang dan mengguyur bumi pertiwi yang membuat banyak para petani senang gembira karena bisa membantu pekerjaan mereka di ladang. Namun, tahukah anda kalau di negara-negara lain yang memiliki musim dingin, di Indonesia hanya memiliki dua musim saja yakni musim kemarau dan musim hujan.

Meski Indonesia dan negara lainnya berada di planet yang sama yakni bumi tapi masalah musim Indonesia dan negara lainnya memiliki perbedaannya seperti Jepang yang memiliki 4 musim yakni musim dingin, musim panas, musim gugur dan musim semi.

Sama seperti bumi yang tiap negara ataupun benua nya yang memiliki banyak perbedaan mengenai musim, di planet lain ternyata juga ada beberapa musim yang tidak ada dibumi. Dan para ilmuwan mencoba untuk membuat musim tersebut di bumi dan lebih tepatnya di laboratorium. Lalu, musim apakah yang sedang dibuat oleh para ilmuwan tersebut? Berikut ini ulasannya.

Ilmuwan Ciptakan Hujan Berlian

2 (1)

Raksasa gas Uranus adalah rumah bagi salah satu peristiwa cuaca yang paling menakjubkan yang ditemukan di manapun di tata surya ini. Para peneliti telah lama menduga bahwa planet-planet es raksasa seperti Neptunus dan Uranus sering mengalami hujan berlian.

Namun, baru kali ini dugaan tersebut terbukti setelah situasi kedua planet tersebut direplikasi di dalam laboratorium. Meskipun dijuluki planet es raksasa, Neptunus dan Uranus sebetulnya sangatlah panas. Kebalikan dengan atmosfer atasnya yang ratusan derajat fahrenheit di bawah titik beku karena jauh dari matahari, pusat dari planet ini bisa mencapai ribuan derajat fahrenheit karena tekanan interiornya yang luar biasa.

Kombinasi dari kedua temperatur yang ekstrem dengan tekanan yang luar biasa ini menciptakan kondisi spesial di mana hidrogen dan karbon dapat membentuk hujan berlian pada 8.000 kilometer di bawah permukaan atmosfer Uranus dan Neptunus. Atas temuan hujan berlian ini di dua planet tersebut para ilmuwan terus mengembangkan tiruan hujan berlian di laboratorium. Akhirnya untuk pertama kalinya para ilmuwan berhasil menciptakan hujan tiruan seperti yang diduga terjadi di planet Neptunus dan Uranus.

Dugaan hujan berlian tersebut, para ilmuwan pun Baru kali ini membuktikannya setelah melakukan replikasi kedua planet tersebut di laboratorium. Para ilmuwan mereplikasi kondisi tersebut di laboratorium. Ilmuwan itu adalah Dominik Kraus, seorang peneliti dari Helmholtz Zentrum Dresed-Rossendorf, dan kolega menggunakan laser untuk mengirim sepasang gelombang kejut melalui plastik yang terbuat dari hidrogen dan karbon (polystryene).

Sepasang gelombang kejut itu menciptakan tekanan dan panas menyerupai kedua planet es, kemudian dalam waktu yang sangat singkat, sekitar 500−15 detik (50 femtosekon) atom karbon dan hidrogen dari plastik memisahkan diri yang kemudian membentuk berlian yang diameternya hanya beberapa nanometer. Kombinasi dari kedua temperatur yang ekstrem dengan tekanan yang luar biasa ini menciptakan kondisi spesial di mana hidrogen dan karbon dapat membentuk hujan berlian pada 8.000 kilometer di bawah permukaan atmosfer Uranus dan Neptunus.

2

Dalam eksperimen Kraus, berlian yang dihasilkan memang sangat kecil. Akan tetapi, dalam lingkungan yang stabil seperti Neptunus dan Uranus, berlian mungkin menghabiskan waktu ribuan tahun hingga bertumbuh menjadi jutaan karat. Planet es raksasa, Neptunus dan Uranus sebetulnya sangatlah panas. Kebalikan dengan atmosfer atasnya yang ratusan derajat fahrenheit di bawah titik beku karena jauh dari matahari, pusat dari planet ini bisa mencapai ribuan derajat fahrenheit karena tekanan interiornya yang luar biasa.

Dalam percobaan tersebut, polistiren digunakana untuk mensimulasikan metana yakni senyawa dari molekul karbon dan hidrogen yang melimpah di luar Neptunus dan Uranus. Menurut ilmuwan, senyawa itu yang menyebabkan warna biru khas pada Neptunus. Dalam lapisan dalam, metana membentuk rantai hidrokarbon yang diyakini berubah menjadi berlian pada tekanan tinggi.

Selama percobaan, polistiren di x-ray menggunakan salah satu mesin paling terang di dunia untuk melihat keberadaan berlian. Mesin tersebut disimpan di SLAC National Accelerator Laboratory di Stanford University. Para peneliti mengatakan, berlian berukuran nano yang mereka buat di laboratorium mereka dapat berpotensi dipanen untuk melengkapi sejumlah peralatan. Berlian tersebut dapat digunakan sebagai ujung alat medis agar memiliki presisi tinggi atau dalam alat elektronik. Penelitian tersebut dipublikasi di Nature Astronomy pada 21 Agustus 2017.

Hujan yang sangat antimainstrem bukan? Kalau di Indonesia ada hujan berlian mungkin masyarakat nya bakalan kaya-kaya yakan guys, hehehe. Selain bumi yang memiliki banyak musim tapi planet Neptunus dan Uranus ngga kalah deh dengan bumi yang bisa menghasilkan hujan berlian.

Tak hanya planet Neptunus dan Uranus saja yang menakjubkan tetapi para ilmuwannya pun juga sangat cerdas bukan? Semoga para ilmuwan dapat membuat temuan-temuan yang lebih menarik lagi. Dan, semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang baca.