Hindari Omelan Istri, Pria Ini Memilih Tinggal Di Hutan

Menikah adalah penggabungan antara dua manusia yang menjadi satu dalam ikatan rumah tangga. Menjalin bahtera rumah tangga bukan lah suatu hal yang mudah dilakukan, mengapa begitu? Karena ketika kita menikah, kita harus mampu berbaur dengan pasangan kita, menerima kekurangan dan kelebihannya, mampu menutupi aib nya dan yang paling penting ialah saling menyayangi satu sama lain. Lalu, bagaima jika dalam rumah tangga memiliki masalah? Setiap orang yang memiliki hubungan antar manusia pasti memiliki masalah entah itu hubunga rumah tangga, orang tua dan anak ataupun pertemanan. Permasalah yang kerap kali terjadi pasti tentang perbedaan pendapat atau mungkin perlakuan meraka yang terlalu berlebihan.

Masalah seperti ini tak sedikit yang mengalami nya dan tak sedikit pula yang bertengkar hebat akibat masalah sepele tersebut. Jika dalam persahabatan yang dimiliki banyak wanita, pasti sudah tidak asing lagi dengan kejudesan ataupun terlalu cerewet nya wanita-wanita tersebut. Karena pada kodratnya wanita memang lah cerewet. Tapi bagaimana jika dalam permasalah suami istri yang istri nya terlalu cerewet? Apakah yang harus dilakukan? Memarahinya istrinya? mendiamkan nya? atau malah pergi saat dia sedang ngedumel?. Kejadian suami istri ribut karena kecerewetan sang istri bukan lah hal yang baru tapi itu sudah menjadi bumbu dalam suatu pernikahan. Tapi, bagaimana jika seorang suami rela pergi dari rumah karena tidak tahan dengan omelan sang istri? Berikut ini adalah kisah unik dari seorang suami yang pergi dari rumah karena tak tahan dengar omelan sang istri.

Karena Omelan Sang Istri, Suami Rela Tinggal Di Hutan

2

Sabar mendengar omelan istri bisa dibilang menjadi kewajiban suami agar sebuah keluarga mampu bertahan. Namun, kewajiban itu sepertinya tidak ingin dilakukan oleh pria asal Birmingham, Inggris, Malcolm Applegate. Tiga tahun pertama pernikahannya, Malcolm Applegate baik-baik saja. Namun, di tahun keempat ia mulai tak tahan dengan omelan sang istri. Mengepak barangnya diam-diam, Applegate lalu meninggalkan rumah tanpa pesan. Selama lima tahun, ia tinggal di hutan, dan kemudian menetap di tempat penampungan tunawisma untuk lima tahun berikutnya.

Pengalaman unik yang dilakukan Malcolm itu terjadi kurang lebih 10 tahun lalu. Malcolm yang kini berusia 62 tahun bercerita sebelum pelarian terjadi, dirinya menjalani hidup secara normal sebagai seorang tukang kebun. Namun kehidupannya berubah menjadi seperti tahanan kota saat ia menikah. Kisah itu disampaikan Applegate baru-baru ini. Disaat ia semakin sibuk sebagai tukang kebun, istrinya menjadi sering marah-marah. Malcolm sampai harus mengurangi waktu kerjanya karena istrinya semakin mengontrol kehidupannya. Di tahun ketiga, adu argumen antara Malcolm dan istrinya semakin menjadi.

Malcolm akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah menggunakan sepeda. Dari Birmingham, Malcolm menuju London. Sempat kehilangan sepeda karena dicuri, Malcolm melanjutkan perjalanan berjalan kaki. Tiga pekan dalam perjalanan, akhirnya Malcolm sampai di sebuah hutan dekat daerah Kingston, London. Di hutan tersebut Malcolm tinggal selama lima tahun. Dia tidak sendiri di hutan tersebut, melainkan bersama dengan dua orang lainnya yang juga tak memiliki tempat tinggal. Setiap malam, Malcolm mendirikan tenda sebagai tempat berteduh sementara siang harinya dia bekerja di taman pusat kota. Penghasilan sebagai tukang kebun dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Malcolm tinggal di hutan tersebut selama kurang lebih lima tahun. Dia ditemani dua orang lainnya yang juga mendirikan tenda di hutan tersebut. Saat Malcolm bekerja ke pusat kota, mereka biasanya pergi bersama untuk mencuci dan mandi. Tidak ada seorangpun yang tahu kalau mereka ada di sana. Hutan itu tidak dikenal dan tidak ada yang berani masuk ke sana

Selama tinggal di hutan Malcolm bekerja sebagai tukang kebun di sebuah pusat komunitas. Selama pengasingannya, Malcolm tidak pernah menghubungi keluarga atau teman. Hingga akhirnya setelah lima tahun berkemah di hutan, dia akhirnya memutuskan pindah ke tempat penampungan tunawisma Emaus Greenwich di London Selatan. Dalam kurun waktu itu, Malcolm tidak pernah menghubungi istri dan juga keluarga besarnya hanya untuk mengabarkan bahwa dia masih hidup. Namun, dia mengaku baru-baru ini menghubungi adik perempuannya yang telah mencari dia selama bertahun-tahun dan mengira dirinya sudah meninggal.

11

 

Dan hingga kini Malcolm masih tinggal di penampungan selama lebih dari lima tahun dan terus berjalan menjadi tukang kebun. Meski masih jauh dari keluarga, kini komunikasi Malcolm dengan adik dan kerabatnya sudah lancar. Ia juga mengungkapkan bahwa tinggal di rumah tunawisma tidak seburuk yang disangka banyak orang. Di sana Malcom memiliki kamar bersih, kehidupan sosial yang aktif dan pekerjaan untuk mengurus taman. “Aku suka di sini, secara resmi hidupku kembali pada jalur yang tepat,” ujar Malcom.

Nah, gimana nih menurut kalian? apakah yang di lakukan oleh bapak tua itu salah atau benar? Sejatinya apapun yang terjadi dalam biduk rumah tangga tetap lah harus diselesaikan dengan baik-baik dan kepala dingin. Jangan pergi dengan meninggalkan masalah yang ada, karena masalah akan terpecahkan kalau kita saling mengerti dan pengertian satu sama lainnya. Buat kalian para suami jika memiliki istri yang suka ngedumel ngga jelas coba deh buat di nasehatin dan buat kalian para istri-istri yang baik cobalah untuk mengerti sang suami bahwasan nya mereka tidak suka jika anda merepet nya terlalu panjang.